untukmu saudaraku kali ini keluarga maya akan memberikan sebuah artikel mengenai waktu yang utama untuk SHalat ISYA selamat membaca brother :)
Waktu Yang Utama Untuk Shalat Isya
Pertanyaan
Assalamu’alaykum
Wr. Wb.
Ustadz yang
dirahmati Allah SWT, ada beberapa hadits shahih yang menyatakan bahwa
Rasulullah SAW lebih mengutamakan pelaksanaan Shalat Isya di akhir waktu (1/3
malam terakhir) bahkan beliau ingin sekali menyarankan ummatnya untuk
melaksanakannya, jika beliau tidak khawatir disalah-artikan menjadi perintah
(dianggap wajib). Dalam beberapa hadits beliau juga kita mengetahui beberapa
keutamaan shalat berjama’ah, yakni 27 derajat lebih tinggi dibanding shalat
sendiri, mewajibkan orang buta untuk tetap shalat berjama’ah di masjid meskipun
tidak punya penuntun, bahkan beliau berniat membakar rumah orang-orang yang
malas shalat berjama’ah di masjid. Dalam Shirah Nabawiyah diberitakan pula beliau
hampir tidak pernah meninggalkan shalat berjama’ah sampai akhir hayat beliau.
Nah, yang
ingin saya tanyakan, apa kaitan keutamaan sholat Isya di akhir waktu dengan
sholat berjama’ah di masjid itu? Apa maksudnya di zaman Rasulullah SAW. shalat
jamaahnya (di masjid) itu memang dilakukan di akhir waktu? Padahal shalat
berjama’ah zaman sekarang umumnya dilaksanakan di awal waktu. Apakah maksudnya
jika kita sholat sendirian di rumah karena punya uzur syar’i boleh/disunahkan
untuk diakhirkan? Jazakallah atas penjelasan Ustadz.
Wassalamu’alaykum
Wr. Wb.
Jawaban
Assalamu
‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ‘ala rsulillah, wa ba’du
Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ‘ala rsulillah, wa ba’du
Waktu Isya’
secara fiqih dimulai sejak berakhirnya waktu Maghrib sepanjang malam hingga
dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang
menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu
shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat
shubuh.
Dari Abi
Qatadah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah tidur itu menjadi tafrith,
namun tafrith itu bagi orang yang belum shalat hingga datang waktu shalat
berikutnya.” (HR.
Muslim)
Sedangkan
waktu mukhtar (pilihan) untuk shalat `Isya` adalah sejak masuk waktu hingga 1/3
malam atau tengah malam. Atas dasar hadits berikut ini.
Dari Abu
Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku tidak memberatkan
umatku, aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan / menunda shalat Isya` hingga
1/3 malam atau setengahnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizy).
Dari Anas
bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW menunda shalat Isya` hingga tengah malam,
kemudian barulah beliau shalat“. (HR. Muttafaqun Alaihi).
Dari Aisyah
ra.: ”Rasulullah SAW mengakhirkan shalat Isya‘ pada suatu malam hingga melewati
malam dan penduduk Madinah terlelap. Kemudian keluar dan beliau
bersabda,”Inilah waktunya (isya‘), bila tidak memberatkan ummatku.” (HR. Muslim dan Nasai)
Juga hadist
lainnya:
Dari Jabir
ra berakata, ” . . Dan Rasulullah SAW melakukan shalat isya‘ terkadang
diakhirkan dan terkadang di awalnya. Bila beliau melihat jamaah telah
berkumpul, maka isya‘ dipercepat dan bila mereka datang lebih lambat, maka
shalat Isya diakhirkan. . . (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun
sebaiknya bila melakukan shalat Isya‘ tengah malam tidak dengan tidur terlbih
dahulu.
Dari Abi
Barzah al-aslami bahwa Rasulullah SAW suka mengakhirkan Isya‘ yang disebutnya
‘atmah, namun beliau tidak suka tidur sebelumnya atau bercakap-cakap
sesudahnya. (HR
Jamaah).
Dengan
adanya dalil-dalil di atas, para ulama menyimpulkan bahwa khusus untuk shalat
‘Isya, memang tidak selalu dikerjakan di awal waktu. Namun seringkali
Rasulullah SAW dan para shahabat mengerjakajannya agak sedikit lebih malam.
Namun tetap dilakukan di masjid secara berjamaah. Bukan shalat sendiri-sendiri
di rumah. Dan tentu saja dengan tetap melantunkan adzan yang berfurngsi sebagai
panggilan kepada umat Islam untuk berkumpul, meski tidak dilantunkan di awal
waktu.
Penundaan
pelaksanaan shalat terurama untuk shalat isya’ berjamaah ini tidak menyalahi
keutamaan, sebab keutamaan itu sendiri datangnya dari Rasulullah SAW juga.
Sebab syariat Islami itu sumbernya dari beliau juga dan beliau tentu dari Allah
SWT. Maka kalau kita sekarang ini menjalankan hal yang sebagaimana beliau SAW lakukan,
tentu saja punya nilai tersendiri. Dan memang demikianlah Rasulullah SAW
mengajarkan agama kepada kita.
Wallahu
a’lam bish-shawab
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
semoga bermanfaat berbagi itu indah
Sumber : http://warnaislam.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar